PERBANKAN

Jumat, 06 September 2019

PENERAPAN PENGINTEGRASIAN KERJA
BANK RAKYAT INDONESIA

A.  Latar Belakang
Perubahan-perubahan fundamental dalam lingkungan bisnis termasuk dalam bisnis perbankan telah mengakibatkan perubahan dramatis pada sifat-sifat penting sistem sumber daya manusia (SDM) dan menunjukkan makin pentingnya SDM bagi bisnis. Dampak lain adalah meningkatnya ketidakpastian yang berhubungan dengan isu-isu SDM (people issue). Pesatnya perkembangan teknologi, pergeseran demografi, fluktuasi ekonomi, dan kondisi dinamis menyebabkan lingkungan bisnis menjadi penuh ketidakpastian, semakin kompleks, dan cepat berubah. Menghadapi kondisi tersebut, setiap organisasi dituntut untuk segera berubah dan beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang makin kompetitif melalui transformasi organisasi.
Pelaksanaan proses transformasi perusahaan  untuk meraih keunggulan kompetitif didukung oleh sumber-sumber keunggulan kompetitif yang meliputi sumber daya fisik, sumber daya finansial, struktur dan sistem proses organisasi, dan sumber daya manusia (SDM). Namun demikian SDM merupakan sumber keunggulan kompetitif yang utama karena pengelolaan sumber keunggulan lain secara otomatis memerlukan penanganan dari SDM yang ada. Keterlibatan SDM sangat menentukan kesuksesan proses perubahan organisasi karena SDM merupakan subyek penting yang akan melaksanakan proses perubahan dan hasil dari proses perubahan yang direncanakan (Moran dan Brightman, 2000).
Untuk menunjang kesuksesan perusahaan diperlukan pengintegrasian fungsi SDM melalui praktek-praktek SDM dalam strategi bisnis perusahaan. Pemilihan dan penerapan strategi bisnis yang tepat akan sangat ditentukan oleh kualitas SDM yang berperan penting dalam kegiatan operasional perusahaan, merencanakan dan melaksanakan strategi bisnis yang ditetapkan. Pengintegrasian fungsi SDM dalam perencanaan strategi bisnis ini dimaksudkan untuk memberdayakan SDM yang dimiliki dalam pengelolaan berbagai unit kerja dalam organisasi agar proses pengelolaan sumber-sumber daya tersebut dapat dilakukan secara efektif dan efisien.
Dengan  persaingan  bisnis perbankan  nasional  yang ketat saat ini, salah satu bank pemerintah  terkemuka  saat ini, yaitu Bank Rakyat  Indonesia  sedang berbenah untuk memperbaiki segala kekurangan, baik dari sumber daya manusia, teknologi, dan pelayanannya.  BRI merupakan  bank komersial yang bergerak di bidang usaha kecil, mikro dan menengah.  Seiring dengan perkembangan  dunia perbankan yang semakin pesat maka sampai saat ini Bank Rakyat Indonesia mempunyai  unit  kerja  yang  berjumlah  4.447  buah,  yang  terdiri  dari  1 Kantor Pusat  BRI,  12  Kantor  Wilayah,  12  Kantor  Inspeksi  /SPI,  170  Kantor  Cabang (dalam negeri), 145 Kantor Cabang Pembantu, 1 Kantor Cabang Khusus, 1 New York Agency,  1 Caymand  Island Agency,  1 Kantor Perwakilan  Hongkong,  40 Kantor Kas Bayar, 6 Kantor Mobil Bank, 193 P.POINT, 3.705 BRI UNIT dan 357 Pos Pelayanan Desa.
Untuk  menjadi  bank  terkemuka  pada  saat  ini  Bank  Rakyat  Indonesia sedang gencar-gencarnya untuk untuk meningkatkan kinerja perusahaan.  Kinerja yang sering disebut dengan performance atau result oleh Rivai & Fawzi (2004) didefinisikan sebagai hasil atau tingkatan keberhasilan seseorang secara keseluruhan selama periode tertentu dalam melaksanakan tugas dibandingkan dengan standar hasil kerja, target atau sasaran atau kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu dan telah disepakati bersama, salah satunya dengan meningkatkan produktifitas kerja. Kinerja pada individu merupakan bagian dari keseluruhan target unit kerja sehingga mendukung  target unit kerja.

B. Pentingnya Pengintegrasian


Pengintegrasian (integration) ialah fungsi operasional manajemen personalia yang terpenting, sulit dan kompleks untuk merealisasikannya. Hal ini disebabkan karena karyawan/manusia bersifat dinamis dan mempunyai pikiran, perasaan, harga diri, sifat, serta membawa latar belakang, perilaku, keinginan dan kebutuhan yang berbeda-beda dalam organisasi perusahaan.
Karyawan tidak dapat diperlakukan seenaknya seperti menggunakan faktor-faktor produksi lainnya (mesin, modal atau bahan baku). Karyawan juga harus selalu diikutsertakan dalam setiap kegiatan serta memberikan peran aktif untuk menggunakan alat-alat yang ada. Karena tanpa peran aktif karyawan, alat-alat canggih yang dimiliki tidak ada artinya bagi peruashaan untuk mencapai tujuannya. Tujuan perusahaan hanya dapat dicapai jika para karyawan bergairah bekerja, mengerahkan kemampuannya dalam menyelesaikan pekerjaan, serta berkeinginan untuk mencapai prestasi kerja yang optimal.

Jika karyawan kurang berprestasi maka sulit bagi organisasi perusahaan dapat memperoleh hasil yang baik. Hal ini mengharuskan pemimpin menggunakan kewenangannya untuk mengubah sikap dan perilaku karyawan supaya mau bekerja giat serta berkeinginan mencapai hasil yang optimal.
Pengintegrasian adalah kegiatan menyatupadukan keinginan karyawan dan kepentingan perusahaan, agar tercipta kerja sama yang memberikan kepuasan. Usaha untuk pengintegrasian dilakukan melalui hubungan antar manusia (human relation), motivasi, kepemimpinan, kesepakatan kerja bersama (KKB), dan Collective Bargaining.
Jadi pengintegrasian adalah hal yang sangat penting dan merupakan salah satu kunci untuk mencapai hasil yang baik bagi perusahaan maupun terhadap karyawan sehingga memberikan kepuasan kepada semua pihak. Kayawan dapat memenuhi kebutuhannya dan perusahaan memperoleh laba.

C.  Tujuan dan Prinsip Pengintegrasian Kerja di Lingkungan Bank BRI
Sebagai sebuah perusahaan jasa yang sudah dikenal masyarakat, tentunya masalah profesionalisme kerja merupakan hal yang penting dan sangat diperhatikan. Adanya pengintegrasian kerja merupakan salah satu bentuk profesionalisme yang ditunjukkan oleh Bank BRI sebagai perusahaan publik yang menjunjung tinggi profesionalitas. Untuk itu, tujuan pengintegrasian di lingkungan BRI adalah memanfaatkan karyawan agar mereka bersedia bekerja keras dan berpartisipasi aktif dalam menunjang tercapainya tujuan perusahaan serta terpenuhinya kebutuhan karyawan.
Adapun  prinsip pengintegrasian kerja yang berlaku di lingkungan Bank BRI adalah menciptakan kerjasama yang baik dan saling menguntungkan.

D. Metode Pengintegrasian Kerja di Lingkungan Bank BRI
Sebagai sebuah bank dengan reputasi yang tidak diragukan lagi dalam dunia perbankan nasional, BRI menerapkan metode-metode pengintegrasian kerja yang menunjukkan adanya profesionalisme dalam menjalankan roda perusahaan, di antaranya:
1). Hubungan antar karyawan/manusia (Human Relations)
2). Motivasi kerja karyawan (Motivation)
3). Kepemimpinan (Leadership)
4). Kesepakatan Kerja Bersama (KKB)
5). Collective Bargaining

      1.   Hubungan Antarkaryawan/manusia
Hubungan antarmanusia (Human Relation) adalah hubungan kemanusiaan yang harmonis, tercipta atas kesadaran dan kesediaan melebur keinginan individu demi terpadunya kepentingan bersama. Tujuannya adalah menghasilkan integrasi yang cukup kukuh, mendorong kerjasama yang produktif dan kreatif untuk mencapai sasaran bersama. Di lingkungan Bank BRI, Manajer dalam menciptakan hubungan antarkaryawan/manusia yang harmonis memerlukan kecakapan dan keterampilan tentang komunikasi, psikologi, sosiologi, antropologi dan etologi, sehingga dia memahami serta dapat mengatasi masalah-masalah dalam hubungan kemanusiaan.


      2.   Motivasi (Motivation)
a.   Pengertian dan Teori-Teori Motivasi
                  1)   Pengertian Motif dan Motivasi
Motivasi berasal dari kata latin movere yang berartin dorongan atau menggerakkan. Motivasi (motivation) dalam manajemen hanya ditujukan pada sumber daya manusia umumnya dan bawahan khususnya. Motivasi mempersoalkan bagaimana caranya mengarahkan daya dan potensi bawahan, agar mau bekerja sama secara produktif berhasil mencapai dan mewujudkan tujuan yang telah ditentukan.
Pentingnya motivasi karena motivasi adalah hal yang menyebabkan, menyalurkan dan mendukung perilaku manusia, supaya mau bekerja giat dan antusias mencapai hasil yang optimal. Motivasi semakin penting karena manajer membagikan pekerjaan pada
bawahannya untuk dikerjakan dengan baik dan terintegrasi kepada tujuan yang diinginkan.
Perterson dan Plowman mengatakan bahwa orang mau bekerja karena faktorfaktor berikut :
a.       The desire to live (keinginan untuk hidup)
b.      The desire for position (keinginan untuk suatu posisi)
c.       The desire for power (keinginan akan kekuasaan)
d.      The desire for recognation (keinginan akan pengakuan)
Motivasi adalah pemberian daya penggerak yang menciptakan kegairahan kerja seseorang agar mereka mau bekerja asma, bekerja efektif dan terintegrasi dengan segala daya upayanya untuk mencapai kepuasan.
Sedangkan menurut Edwin B Flippo, motivasi adalah “Direction or motivation is essence, it is a skill in aligning employee and organization interest so that behavior result in achievement of employee want simultaneously with attainment or organizational objectives. (Motivasi adalah suatu keahlian, dalam mengarahkan pegawai dan organisasi agar mau bekerja secara berhasil, sehingga keinginan para pegawai dan tujuan organisasi sekaligus tercapai).
Menurut American EncyclopediaMotivation: That predisposition (it self the subject of much controvency) within the individual wich arouses sustain and direct his behavior. Motivation involve such factor as biological and emotional needs that can only be inferred from observation behavior). (Motivasi adalah kecenderungan (suatu sifat yang merupakan pokok pertentangan) dalam diri seseorang yang membangkitkan topangan dan mengarahkan tindak-tanduknya. Motivasi meliputi faktor kebutuhan biologis dan emosional yang hanya dapat diduga dari pengamatan tingkah laku manusia).
Dan menurut Merle J. Moskowits “Motivation is usually refined the initiation and direction of behavior, and the study of motivation is in effect the study of course of behavior.” (Motivasi secara umum didefinisikan sebagai inisiasi dan pengarahan tingkah laku dan pelajaran motivasi sebenarnya merupakan pelajaran tingkah laku).
Adapun motif, adalah suatu perangsang keinginan (want) dan daya penggerak kemauan bekerja seseorang. Setiap motif mempunyai tujuan tertentu yang ingin dicapai (Penulis). Perbedaan pengertian keinginan (want) dan kebutuhan (needs) adalah keinginan (want) dari setiap orang berbeda karena dipengaruhi oleh selera, latar belakang dan lingkungannya, sedangkan kebutuhan (needs) semua orang adalah sama.
Konsep motif dan motivasi yang dikembangkan oleh Bank Rakyat Indonesia sebagai sebuah perusahaan publik di bidang jasa keuangan yang memegang profesionalisme kerja tinggi tergambar dalam hal-hal sebagai berikut:
1).  Perangsang berbentuk materiil atau nonmateriil yang tercipta oleh internal (keinginan) maupun eksternal yang dilakukan oleh manajer.
2). Rangsangan yang menciptakan keinginan (want) dan mempengaruhi perilaku seseorang (individu)
3). Keinginan menjadi daya penggerak dan kemauan bekerja seseorang (individu)
4). Kemauan bekerja menghasilkan pemenuhan kebutuhan dan kepuasan seseorang.
5). Kebutuhan dan kepuasan mendorong menciptakan perangsang selanjutnya dan seterusnya, jadi merupakan siklus.
Konsep motif dan motivasi tersebut didasarkan pada pendapat Dr. David Mc. Clelland terkait dengan motivasi, yang mengatakan bahwa terdapat pola motivasi yang menonjol :
1). Achievement motivation, yaitu suatu keinginan untuk mengatasi/ mengalahkan suatu tantangan, untuk kemajuan, dan pertumbuhan.
2). Affiliation motivation, yaitu dorongan untuk melakukan hubungan dengan orang lain.
3). Competence motivation, yaitu dorongan untuk melakukan pekerjaan yang bermutu
4). Power motivation, yaitu dorongan yang dapat mengendalikan suatu keadaan. Dalam hal ini ada kecenderungan untuk mengambil risiko dan menghancurkan rintangan yang terjadi. Sifat ini banyak dilakukan/terdapat pada orang-orang yang berkecimpung dalam bidang politik. Power motivation ini tidak akan berakibat terlalu buruk, jika diikuti oleh achievement, affiliation dan competence motivation.

2). Tujuan Motivasi
                        Sebagai sebuah perusahaan yang berorientasi pada profit taking, Bank Rakyat Indonesia (BRI) tentunya mempunyai terkait dengan motivasi yang diberikan khususnya kepada para karyawannya. Tujuan motivasi tersebut antara lain sebagai berikut :
a.       Meningkatkan moral dan kepuasan kerja karyawan
b.      Meningkatkan produktivitas kerja karyawan
c.       Mempertahankan kestabilan karyawan perusahaan
d.      Meningkatkan kedisiplinan karyawan
e.       Mengefektifkan pengadaan karyawan
f.       Menciptakan suasana dan hubungan kerja yang baik
g.      Meningkatkan loyalitas, kreativitas dan partisipasi karyawan
h.      Meningkatkan tingkat kesejateraan karyawan
i.        Mempertinggi rasa tanggung jawab karyawan terhadp tugas-tugasnya
j.        Meningkatkan efisiensi penggunaan alat-alat dan bahan baku

3). Asas-asas Motivasi
                        Asas-asas motivasi yang dikembangkan oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI) antara lain:
            a.   Asas Mengikutsertakan
                  Maksudnya mengajak bawahan untuk ikut berpartisipasi dan memberikan kesempatan kepada mereka mengajukan ide-ide, rekomendasi dalam proses pengambilan keputusan.
            b.   Asas Komunikasi
                  Maksudnya menginformasikan secara jelas tentang tujuan yang ingin dicapai, cara mengerjakannya dan kendala yang dihadapi.
            c.   Asas Pengakuan
                  Maksudnya memberikan penghargaan dan pengakuan yang tepat secara wajar kepada bawahan atas prestasi kerja yang dicapainya.
            d.   Asas Wewenang yang Didelegasikan
                  Maksudnya mendelegasikan sebagian wewenang serta kebebasan karyawan untuk mengambil keputusan dan berkreativitas dan melaksanakan tugas-tugas atasan atau manajer.
            e.   Asas Perhatian Timbal Balik
                  Asas perhatian timbal balik adalah memotivasi bawahan dengan mengemukakan keinginan atau harapan perusahaan disamping berusaha memenuhi kebutuhankebutuhan yang diharapkan bawahan dari perusahaan.

4). Metode Motivasi
                        Motivasi yang diberikan di lingkungan Bank Rakyat Indonesia (BRI) dilakukan dengan beberapa metode, di antaranya:
a.      Motivasi Langsung (Direct Motivation)
                  Adalah motivasi (materiil dan nonmateriil) yang diberikan secara langsung kepada setiap individu karyawan untuk memenuhi kebutuhan serta kepuasannya.
b.      Motivasi Tak Langsung (Indirect Motivation)
            Adalah motivasi yang diberikan hanya merupakan fasilitas-fasilitas yang mendukung serta menunjang gairah kerja/kelancaran tugas sehingga para karyawan betah dan bersemangat melakukan pekerjaannya.

5). Alat-Alat Motivasi
                        Alat-alat motivasi (daya perangsang) yang diberikan kepada bawahan di lingkungan Bank Rakyat Indonesia (BRI) dapat berupa material incentive dan nonmaterial incentive. Material incentive adalah motivasi yang bersifat materiil sebagai imbalan prestasi yang diberikan oleh karyawan. Yang termasuk material incentive adalah yang berbentuk uang dan barang-barang. Nonmaterial incentive adalah motivasi (daya perangsang) yang tidak berbentuk materi. Yang termasuk nonmaterial adalah penempatan yang tepat, pekerjaan yang terjamin, piagam penghargaan, bintang jasa, perlakuan yang wajar, dan sejenisnya.

            6). Jenis-Jenis Motivasi
                        Motivasi yang diberikan di suatu perusahaan termasuk di perusahaan perbankan (BRI) sangat beragam jenisnya. Dan di antara jenis-jenis motivasi tersebut di antaranya :
            a.   Motivasi Positif (Insentif Positif)
Maksudnya manajer memotivasi (merangsang) bawahan dengan memberikan hadiah kepada mereka yang berprestasi di atas prestasi standar.
            b.   Motivasi negatif (Insentif Negatif)
Maksudnya manajer memotivasi bawahan dengan standar mereka akan mendapat hukuman.

      3.   Pemimpin dan Teori Kepemimpinan
            Kepemimpinan (leadership) yang ditetapkan oleh seorang manajer dalam organisasi dapat menciptakan integrasi yang serasi dan mendorong gairah kerja karyawan untuk mencapai sasaran yang maksimal. Kepemimpinan adalah kata benda dari pemimpin (leader).
     Pemimpin (Leader = head) adalah seseorang yang mempergunakan wewenang dan kepemimpinannya, mengarahkan bawahan untuk mengerjakan sebagian pekerjaannya dalam mencapai tujuan organisasi.
            Kepemimpinan adalah cara seorang pemimpin mempengaruhi perilaku bawahan, agar mau bekerjasama dan bekerja produktif untuk mencapai tujuan organisasi.
            Dalam suatu perusahaan, termasuk di dalamnya perusahaan di bidang jasa, terdapat banyak gaya kepemimpinan yang dijalankan, beberapa di antaranya yaitu:
1). Kepemimpinan Otoriter
Adalah jika kekuasaan atau wewenang, sebagian besar mutlak tetap berada pada pimpinan atau kalau pimpinan itu menganut sistem sentralisasi wewenang. Pengambilan keputusan dan kebijaksanaan hanya ditetapkan sendiri oleh pemimpin, bawahan tidak diikutsertakan untuk memberikan saran, ide dan pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan. Falsafah pemimpin ialah ”bawahan adalah untuk pimpinan/atasan”.
Orientasi kepemimpinannya difokuskan hanya untuk peningkatan produktivitas kerja karyawan dengan kurang memperhatikan perasaan dan kesejahteraan bawahan. Pimpinan menganut sistem manajemen tertutup (closed management) kurang menginformasikan keadaan perusahaan pada bawahannya. Pengkaderan kurang mendapat perhatiannya.
2).  Kepemimpinan Partisipatif
Adalah apabila dalam kepemimpinannya dilakukan dengan cara persuasif, menciptakan kerjasama yang serasi, menumbuhkan loyalitas, dan partisipasi para bawahan. Pemimpin memotivasi bawahan agar merasa ikut memiliki perusahaan. Falsafah pemimpin ialah ”pimpinan (dia) adalah untuk bawahan”.
3).  Kepemimpinan Delegatif
Pada prinsipnya pemimpin bersikap, menyerahkan dan mengatakan kepada bawahan ”Inilah pekerjaan yang harus saudara kerjakan, saya tidak peduli, terserah saudara bagaimana mengerjakannya asal pekerjaan tersebut bisa diselesaikan dengan baik”. Disini pimpinan menyerahkan tanggung jawab atas pelaksanaan pekerjaan kepada bawahan dalam arti pimpinan menginginkanagar para bawahan bisa mengendalikan diri mereka sendiri dalam menyelesaikan pekerjaan tersebut. Kematangan pekerjaan dikaitkan dengan kemampuan untuk melakukan sesuatu yang berdasarkan pengetahuan dan keterampilan. Kematangan psikologis dikaitkan dengan kemauan atau motivasi untuk melakukan sesuatu yang erat kaitannya dengan rasa yakin dan keterikatan.
Berdasarkan tiga gaya kepemimpinan di atas, dalam menjalankan roda perusahaan, manajemen Bank Rakyat Indonesia lebih condong kepada gaya kepemimpinan partisipatif. Hal ini didasarkan pada kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh manajemen bahwa seorang pemimpin harus memandang bahwa sasaran perusahaan merupakan tanggungjawab yang harus dipikul bersama antara pimpinan dan bawahan. Seluruh karyawan merupakan satu tim yang integral dan tidak dapat dipisahkan untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Dengan cara seperti ini, diharapkan seluruh karyawan mempunyai dedikasi dan tanggungjawab yang besar terhadap perusahaan, sehingga apa yang menjadi sasaran perusahaan dapat dicapai dengan maksimal.

      4.   Kesepakatan Kerja Bersama dan Collective Bargaining
a.   Kesepakatan Kerja Bersama (KKB)
      Dalam proses menjalankan roda perusahaan, manajemen Bank Rakyat Indonesia (BRI) memandang bahwa Kesepakatan Kerja Bersama (KKB) berperan penting dalam menciptakan pengintegrasian, membina kerja sama dan menghindarkan terjadinya konflik dalam perusahaan. Dengan KKB ini diharapkan permasalahan yang dihadapi karyawan dengan perusahaan dapat diatasi dengan baik. Misalnya : kenaikan gaji/upah, tunjangan hari raya, pemecatan karyawan, dan lain-lain. KKB adalah musyawarah dan mufakat antara pimpinan perusahaan dengan pimpinan serikat karyawan dalam memutuskan masalah yang menyangkut kebutuhan karyawan dan kepentingan peruashaan. Dengan landasan musyawarah dan mufakafat diharapkan tercipta integrasi yang serasi dalam perusahaan. Karyawan menjadi partner kerja sama yang baik bagi perusahaan.

b.   Collective Bargaining
Collective bargaining adalah adanya pandangan antara pimpinan perusahaan dengan pimpinan serikat buruh (karyawan) dalam menetapkan keputusan-keputusan yang menyangkut kepentingan perusahaan dan kebutuhan karyawan. Hal ini dilakukan agar tercipta integrasi yang harmonis dan usaha-usaha untuk menghindari terjadinya konflik dalam perusahaan.
Collective bargaining didasarkan atas perundingan yang berarti adu kekuatan, siapa yang mempunyai posisi kuat maka dialah yang banyak menentukan keputusan. Sedangkan KKB didasarkan atas musyawarah dan mufakat dalam menetapkan keputusan, bukan atas adu kekuatan/posisi.
Collective bargaining dapat diibaratkan seperti demokrasi barat, sedangkan KKB seperti demokrasi Pancasila.

E.  Integrasi fungsi-fungsi SDM dalam strategi bisnis BRI
Pengintegrasian fungsi SDM dalam strategi bisnis Bank Rakyat Indonesia (BRI) mengacu pada upaya pendefinisian ulang tentang kondisi organisasi, peran dan kemampuan organisasi mengenai masalah bisnis. Hal ini dapat dilakukan dengan pendefinisian yang jelas mengenai peran, perilaku, kegiatan, dan tanggungjawab masing-masing karyawan sehingga karyawan mampu meningkatkan kinerjanya dengan menguasai atau memiliki bakat dan keahlian sesuai     bidang kerjanya, mampu mengembangkan diri, bekerjasama dalam tim kerja sehingga memberikan kontribusi yang besar dalam peningkatan kinerja perusahaan secara menyeluruh. Meningkatnya kinerja perusahaan akan memberikan dampak positif terhadap kelangsungan hidup dan perkembangan perusahaan.
Usaha-usaha untuk mengintegrasikan fungsi-fungsi SDM dalam strategi bisnis perusahaan dapat dilakukan melalui tiga pendekatan yaitu pertama,  mencocokkan atau  menyesuaikan  gaya  manajerial  atau  aktivitas personil,  keduameramalkan kebutuhan tenaga kerja dengan  memberikan sasaran-sasaran strategis atau kondisi lingkungan yang pasti, dan ketiga, menyediakan sarana-sarana integrasi SDM dalam usaha secara menyeluruh untuk menyesuaikan  strategi dan struktur perusahaan. Winter 1985, mengkategorikan derajat integrasi antara strategi perusahaan dan fungsi SDM kedalam empat level meliputi administrative linkage, one way linkage, two way linkage, dan integrative linkage.
Administrative linkage diindikasikan oleh suatu keadaan dimana SDM memerankan peranan personal yang    masih   tradisional yang memberikan dukungan operasional, pengembangan program untuk mengisi berbagai keinginan melalui perusahaan. One way linkage, pada tahap ini terdapat rangkaian hubungan antara fungsi-fungsi SDM dan strategi bisnis perusahaan. Fungsi SDM adalah  mendesain  sistem  dan  program  untuk mendukung sasaran strategis perusahaan, bahkan SDM bertindak untuk membuat strategi inisiatif tapi tidak mempengaruhi strategi tersebut. Two way linkage, level integrasi ini diindikasikan dengan  adanya hubungan yang interdependen dan resiprokal antara fungsi SDM dan strategi kompetitif perusahaan. Pada kondisi ini, top manajer dan para perencana bisnis mengetahui bahwa rencana bisnis akan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh aktivitas SDM. Dengan kata lain, fungsi SDM dianggap penting dan dapat dipercaya. Integrative linkage, dikarakterisasikan dengan hubungan dinamis, interaktif antara fungsi SDM dan strategi kompetitif perusahaan. Interaksi terjadi baik secara formal maupun informal. Dalam kondisi ini, senior HR executive dianggap sebagai patner  strategi bisnis bagi eksekutif senior yang lain.
Integrasi fungsi SDM dan strategi bisnis perusahaan sangat penting untuk menciptakan keunggulan kompetitif perusahaan. Melalui integrasi tersebut diharapkan tercapai efektivitas  fungsi  SDM  dalam  melakukan  fungsinya,  memberikan  nilai tambah bagi organisasi, memperbaiki kinerja perusahaan, dan meningkatkan fleksibilitas organisasi untuk mampu beradaptasi dengan perubahan dan perkembangan lingkungan bisnis sehingga perusahaan mampu memenangkan persaingan bisnis dalam lingkungan bisnis yang makin kompetitif.

                                                     DAFTAR PUSTAKA


Almaraz, Jeanne.1994. Quality Management and The Process of Change. Journal of Change Management, Vol. 7, No. 2, pp 6-14

Barney,   J.B.   1991.   Firm   Resources   and   Sustainabl Competitive Advantage. Journal of management. pp. 99-120

Buller,  P.F.  Successful  Patnerships:  Human  Resources  and  Strategis Planning at Eight Top Firm. Organizational Dynamics, pp 27-43

Carrell, M.R., N.F. Elbert and R.D. Hatfield. (1995) Human Resources Management Fifth Edition. Englewood Cliffs, NJ. Prentise Hall.

Dessler, G. 2000. Human Resources Management. Eight Edition. Prentice Hall

Faulkner,  D  dan  Bowman,  C.  1997.  Strategi  Kompetitif.  Endang  Sri Prapti. (Transl.) Penerbit Andi Yogyakarta.

Flaherty, M.T. 1996. Global Operation Management, New York: Mc. Graw Hill, Inc

Lawrence, S. 1989. Voice of Human Resources Experience, Personel Journal, April : pp. 61-75.

Lengnick-Hall,  C.A.  dan  Lengnick-Hall,  M.L.  1988.  strategic  Human Resources Management: A review of The Literature and Proposed typology. Academy of Management Review, 13(3), pp. 454-470

Maitland, I. 1994. The Business Environment. British Library Cataloguing in Publishing Data.

Moran,  John  W.,  Baird  K.  Brightman.  2000.  Leading  Organizational Change. Journal of Workplace Learning: Employee Conselling Today, Vol. 12. No. 2, pp 66-74

Robbins,  S.P., 2002.  Managing Today.  Second  Edition.  Prentice Hall International, Inch.International.

Simamora, Henry. 1993. Manajemen Sumber         Daya Manusia, Edisi I, Yogyakarta, Bagian Penerbitan STIE YKPN.

WANITA DALAM PANDANGAN ISLAM


KEDUDUKAN WANITA DALAM ISLAM

A.   Islam dan Wanita
               Sebelum lahirnya agama Islam kaum wanita sama sekali tidak berharga dan dipandang sebagai barang atau benda yang bisa diwariskan juga seperti benda lainnya. Malahan pada jaman jahiliyah, ada suatu masa di mana orang laki-laki merasa hina jika istrinya melahirkan anak perempuan, lalu dikuburnya hidup-hidup. Semua orang telah mendengarkan cerita ini sebab seringkali disebut-sebut dalam ceramah-ceramah sebagai ciri-ciri jaman jahiliyah yang kejam itu.
               Maka datanglah agama Islam, mengangkat derajat kaum wanita dari anggapan sebagai barang yang tidak berharga hingga kepada sebagai manusia yang punya hak dan kewajiban yang sama dengan laki-laki dalam batas-batas tertentu. Dan inilah emansipasi yang mula-mula sekali diproklamasikan oleh manusia pilihan Tuhan Nabi Muhammad SAW.
               Dalam waktu yang relatif singkat, kaum wanita Islam memperoleh kemerdekannya sebagai manusia. Sehingga pada suatu hari Umar bin Khattab telah menegur Nabi Muhammad SAW. yang dianggapnya sebagai orang yang menyebabkan wanita-wanita Arab jadi berani, padahal selama ini mereka sangat takut dan patuh kepada suami-suami mereka.
               Tetapi sebaliknya dengan wanita-wanita lain pada umumnya di seluruh dunia, bahkan pada abad-abad terakhir masih saja dimusyawarahkan kedudukannya sebagai manusia yang syah. Mereka dihina dan dinajiskan, tidak boleh beragama, membaca kitab suci dan tidak dapat masuk syurga.
               Di luar Islam wanita-wanita direndahkan, seperti atau sebagai benda yang tidak bisa dan tidak sanggup berbuat apa-apa. Terkadang mereka dimuliakan, disanjung, dipuja, di tempat yang tidak semestinya. Mereka dilayani sehingga tidak ubahnya dengan benda atau patung yang tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka dimanjakan, sehingga untuk mengambil atau memungut sapu tangannya pun selalu berlomba-lomba lelaki yang hendak menawarkan jasanya. Dan di sana yang demikian dinamakan etika.
               Banyak lain-lainnya lagi yang kemudian dihapuskan adat dan kebiasaan demikian itu oleh kebiasaan-kebiasaan Islam yang sederhana.
               Agama Islam telah datang dengan tugas antara lain untuk mengangkat derajat kaum wanita, dan jurang kehinaan, dan didudukkannya di tempat yang layak baginya. Islam tidak akan menempatkan wanita di tempat yang hina sebagai budak yang najis. Bukan pula di tempatkan di dalam gudang sebagai barang yang tidak berharga sama sekali. Bukan pula ditempatkan di tempat yang tinggi di kahyangan sebagai patung dewi yang dungu, untuk disanjung dan dipuja, dan diletakkan di sudut istana sebagai hiasan kamar.
               Islam memandang wanita sebagai makhluk manusia biasa bukan dewa, sebagaimana firman Allah SWT. yang tercantum dalam surat Al-Hujurat ayat 13 yang menegaskan bahwa Allah SWT. menciptakan manusia terdiri dari laki-laki dan wanita. Firman Allah ini menegaskan bahwa laki-laki maupun wanita adalah manusia biasa, bukan dewa sebagaimana pandangan orang yang mendewakan wanita. Demikian pula wanita bukan sebagai alat untuk pelampiasan nafsu birahi laki-laki, tetapi sebagaimana firman Allah tersebut adalah sebagai teman hidup untuk saling berkenalan satu sama lainnya.
               Islam memandang wanita adalah wanita bukan laki-laki yang memiliki kondisi dan sifat-sifat tersendiri sebagaimana firman Allah yang tersebut di atas, Allah menciptakan laki-laki dan wanita, hal itu berarti laki-laki ya laki wanita ya wanita yang satu sama lain tidak sama rata kondisi sifat-sifatnyapun berbeda. Pada umumnya kondisi dan sifat-sifat kaum laki-laki lebih kuat dari kaum wanita, karena itu Allah memberikan tanggungjawab kepada laki-laki sebagai pembela kaum wanita. Adapun dan sifat-sifat kaum wanita adalah lemah lembut karena itu Allah menjadikan wanita sebagai pengimbang kaum laki-laki dalam kehidupan di dunia ini. Menurut pandangan Islam kedudukan wanita sebagai makhluk Allah sama derajatnya dengan kedudukan laki-laki. Kalau dilihat dari segi kehambaan antara laki-laki dan wanita di sisi Allah, maka sesungguhnya Allah tidak membeda-bedakan, keduanya sama-sama berhak masuk syurga, sama-sama diperbolehkan beramal dan beribadah, mengabdi kepada masyarakat dan agama, mengecap pendidikan dan pengajaran, memimpin dan berpolitik, berjuang dan turut serta ke medan perang dan lain sebagainya. Akan tetapi sama derajatnya bukan berarti pula sama rata dalam hak dan kewajibannya sebagaimana yang direalisasikan oleh masyarakat barat.
               Adanya perbedaan kedudukan kaum wanita dan kaum laki-laki dalam Islam terutama dalam hak dan kewajiban adalah wajar jika dilihat dari kondisi dan sifat-sifat yang dimiliki oleh kedua makhluk manusia itu. Namun perbedaan itu bukan berarti dikonfrontasikan antara satu dengan lainnya, tetapi untuk dipertemukan sehingga terciptalah antara kaum laki-laki dengan kaum wanita saling mengasihi dan saling mencintai, tolong menolong dan bantu membantu sebagaimana yang dikehendaki Allah.

B.   Kedudukan wanita dalam Islam
        Wanita adalah Aurat
               Aurat adalah bagian atau anggota tubuh yang harus ditutup agar tidak dilihat orang, kecuali kepada orang-orang yang tidak dilarang oleh agama untuk melihatnya. Maka jika dikatakan oleh Nabi bahwa wanita itu adalah aurat maksudnya tidak lain adalah bahwa wanita harus tertutup dari pandangan orang-orang yang tidak berhak, tidak dibenarkan oleh ajaran Islam untuk memandangnya.
               Ini tidak berarti bahwa wanita harus dipingit di rumah saja. Sampai pucat pasi mukanya sebab tidak kena sinar matahari. Tetapi juga tidak boleh keluar dengan bebasnya untuk memamerkan diri dan perhiasannya dengan maksud untuk menarik perhatian lawan jenisnya. Islam hanya membenarkan kepada wanita untuk memamerkan perhiasannya kepada orang yang berhak atas dirinya yaitu suaminya.
               Dari itu wanita-wanita Islam berkewajiban untuk mengisyaratkan anak-anak kita, saudara-saudara kita, yang telah terlihat dalam krisis akhlak ini dengan memberi mereka nasihat-nasihat yang berguna. Marilah kita berusaha, berikhtiar dan bekerja keras untuk itu. Jika kita ini adalah ibu-ibu, maukah kita pergunakan pengaruh kita terhadap suami dan anak-anak kita, agar supaya mereka tidak terus menerus berlarut-larut berkecimpung dalam lumpur kemaksiatan. Kalau kita sebagai guru, marilah kita gunakan wibawa kita atas anak-anak didik kita supaya mereka tidak terus melakukan perbuatan-perbuatan yang tercela dan terlarang menurut ajaran agama Islam. Dan kita adalah ketua atau aktivis organisasi, marilah kita gunakan kesempatan ini untuk mencari kerelaan Allah sebelum azab-Nya datang dan menimpa kita. Jagalah diri kita jangan sampai terseret ke jurang yang merugikan.
               Islam memandang wanita sebagai makhluk yang harus dihormati dan bukan untuk direndahkan dan dihinakan. Sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW. ketika ditanya oleh seorang tentang siapakah orang yang harus dihormati, ketika itu Nabi menjawab bahwa orang yang harus dihormati terlebih dahulu (diucapkan sampai tiga kali oleh Nabi) adalah Ibu (kaum wanita) dan setelah itu barulah ayah (kaum laki-laki). Demikian pula sesuai dengan hadits nabi sebagaimana yang tercantum dalam riwayat Ahmad Al Qadhay dan Al Khatib bahwa Syurga berada di bawah telapak kaki ibu (kaum wanita). Kesemuanya ini menandakan betapa Islam menghormati kedudukan kaum wanita.
               Alangkah hinanya perempuan atau wanita yang menjadi model dan pemegang peranan dalam film cabul itu. Alangkah hinanya wanita yang seharusnya berperasaan halus dan pemalu itu, tetapi kini perasaan dan sifat mulia itu telah terbuang jauh-jauh, hanya untuk mengejak kemewahan dan nafsu angkara dengan berkedok emansipasi.
               Maka sebelum terlambat sebelum menimpa kita semua, marilah generasi kita ini kita selamatkan. Dengan bersungguh-sungguh kita usahakan berakhirnya kerusakan itu secepat mungkin. Setidak-tidaknya hanya sampai di sini saja kerusakan itu, jangan berlarut-larut sampai kita wariskan kepada generasi yang akan datang.
               Maka dari itu saya anjurkan kepada kaum wanita Indonesia, khususnya kaum muslimah untuk meniru kesadaran wanita-wanita yang telah berupaya meninggalkan kebiasaan-kebiasaan berbuka aurat dengan menggunakan busana-busana yang menutupi aurat.

        Wanita adalah Tiang Negara
               Sesungguhnya tidak ringan tugas yang diembankan Allah kepada kaum wanita di dalam rumah tangganya. Di samping kewajibannya mengurus dan menyelenggarakan rumah tangga, harta dan diri suaminya, dia juga harus dan berkewajiban mendidik putra-putranya. Salah dalam mengasuh anak-anak mereka, mereka bisa menjadi anak-anak berandalan.
               Itulah sebabnya Nabi Muhammad SAW. telah bersabda bahwa Syurga itu di bawah kaki para ibu. Yakni orang-orang yang akan masuk syurga itu adalah merupakan hasil didikan para ibu-ibu. Pengaruh didikan ibu di masa kecil putra-putranya akan jadi dasar atau pedoman yang kuat dalam diri putra-putranya itu sendiri, dalam memasuki hari depan yang masih gelap bagi mereka itu.
               Jika dijadikan yang mendasari akhlak anak tersebut salah, maka anak itu akan menjadi anak-anak yang nakal, pembohong, pemabuk, penjudi, penzina atau orang yang suka melakukan kejahatan-kejahatan lainnya. Dengan demikian anak itu atau orang itu tidak dapat menjadi anak mulia yang nantinyapun tidak dapat masuk syurga.
               Kita telah sama-sama maklumi bahwa tipe khas seorang wanita haruslah berperan sebagai seorang ibu yang ikhlas dan halus serta lemah lembut budi pekertinya. Sungguh sayang jika sifat-sifat manusia ini harus hilang. Kalau rasa malu itu telah hilang maka harga diri wanita itu jadi murah sekali. Sehingga bentuk tubuh wanita itu kini telah dipertontonkan tanpa sehelai benangpun di muka umum. Dibuat alat untuk mencari uang dan pemuas nafsu laki-laki hidung belang.
               Mungkinkah wanita yang telah hilang rasa malunya itu bisa mendidik anak-anaknya? Terutama putri-putrinya dengan menjadikan yang baik dan mulia. Jika seorang ibu sudah gagal dalam membentuk manusia berakhlak maka akan terus menerus berlarut-larut sampai ke anak cucunya. Semuanya akan menjadi manusia-manusia yang kotor. Dan dipekerjakan atau perbuatan orang yang kotor ini tidak sama dengan perbuatan orang-orang ahli syurga.
               Orang-orang yang kotor itu yaitu orang-orang yang berani melanggar hukum agama dan hukum negara, seperti pencurian, penggarongan, pemitnahan, perusak rumah tangga orang dan sebagainya. Semuanya itu tidak dapat menjadi anak atau orang yang menjadi calon ahli syurga. Pendidikan dasar orang-orang itu adalah dari ibu. Itulah sebabnya syurga itu dikatakan terletak di bawah telapan kaki ibu. Sebab manusia-manusia yang memperoleh pendidikan yang baik dari ibunyalah yang kelak bisa menjadi manusia-manusia ahli syurga.
               Untuk menjadi ahli syurga, amal orang-orang itu haruslah baik. Perbuatan ahli syurga tidak akan melanggar dan merusak hukum-hukum yang berlaku di atas dunia kesopanan. Tidak akan bertentangan dengan hukum yang berlaku di negara yang berketuhanan Yang Maha Esa seperti Indonesia.
               Dalam Islam, ada jabatan-jabatan penting yang tidak dikaruniakan Allah kepada kaum wanita, seperti jabatan kenabian dan kerasulan. Demikian pula jabatan imam dalam shalat berjamaah (dengan laki-laki) dan jabatan sebagai khalifah dalam pemerintahan, baik yang dilakukan sendiri maupun bersama kaum laki-laki. Di sinilah kelebihan yang diberikan Allah kepada kaum laki-laki sesuai dengan firman Allah yang tercantum dalam surat An-Nisa ayat 34. meskipun demikian bukan berarti bahwa wanita itu kalah dengan kaum laki-laki, merekapun tidak kalah dengan kaum laki-laki dalam berbagai bidang. Dalam sejarah telah dibuktikan betapa banyak kaum wanita yang melebihi kaum laki-laki baik dalam bidang ilmu pengetahuan, politik kenegaraan, sosial kemasyarakatan, sosial ekonomi dan sosial budaya. Kekurangan yang ada pada diri kaum wanita tidak akan mengurangi derajat kaum wanita sebagai hamba Allah karena masih banyak jabatan-jabatan penting yang dapat dipegangnya sesuai dengan kondisi dan sifat-sifat yang dimilikinya. Wanita dengan kondisi dan sifat-sifatnya itu dapat melakukan apa yang tidak dapat dilakukan oleh kaum laki-laki, seperti mengatur rumah tangga, merawat anak-anak. Inilah kelebihan yang diberikan Allah kepada kaum wanita. Oleh karena itu seorang tidak boleh iri hati atas kelebihan yang dimiliki oleh orang lain, karena pada dirinya sendiri sebenarnya ada kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain.

DAFTAR PUSTAKA

Noer Syam, ”Pengantar Dasar-dasar Kependidikan”, FKIP Malang. 1987.

Materi Diklat ”Pengembangan Kreativitas Anak” Depdiknas 2007.

Munawar Rahmat dkk., ”Seminar Pendidikan Agama Islam” UPI Press 2006.

Majalah Al-Muslimun Nomor 159.

HYDROCRACKING DAN VISBREAKING

Kamis, 05 September 2019


HYDROCRACKING DAN

VISBREAKING


A.  Pengertian Hydrocracking        
Hydrocracking merupakan unit proses kilang minyak bumi yang termasuk kelompok secondary processing, yaitu proses downstream kilang minyak bumi yang menggunakan reaksi kimia untuk menghasilkan produk-produknya. Walaupun menggunakan katalis dan prosesnya meng-cracking umpan, namun seringkali Hydrocracking tidak dikelompokkan ke dalam catalytic cracking. Seringkali istilah catalytic cracking hanya diperuntukkan kepada unit-unit proses Fluid Catalytic Cracking atau Residual Catalytic Cracking atau Residual Fluid Catalytic Cracking (perbedaan ketiganya terutama hanya pada jenis umpannya). Sedangkan hydrocracking dikelompokkan terpisah, berdiri sendiri sebagai Hydrocracking. 
Hydrocracking merupakan proses dua tahap menggabungkan catalytic cracking dan hidrogenasi, dimana bahan baku yang lebih berat akan terpecahkan dengan adanya hidrogen untuk menghasilkan produk yang lebih diinginkan. Proses ini menggunakan tekanan tinggi, suhu tinggi, katalis, dan hidrogen. Hydrocracking digunakan untuk bahan baku yang sulit untuk diproses, baik dengan catalytic cracking atau reformasi, karena bahan baku ini biasanya ditandai dengan kandungan aromatik polisiklik tinggi dan / atau konsentrasi tinggi dari dua racun katalis utama, sulfur dan senyawa nitrogen. 
3
 
Proses hydrocracking sangat tergantung pada sifat dari bahan baku dan tingkat relatif dari kedua reaksi, hidrogenasi dan cracking. Bahan baku aromatik dengan molekul yang berat diubah menjadi produk yang lebih ringan dengan berbagai tekanan yang sangat tinggi (1000-2000 psi) dan temperatur yang cukup tinggi (750 ° -1500 ° F), dengan adanya hidrogen dan katalis khusus. Ketika bahan baku memiliki kandungan parafin tinggi, fungsi utama dari hidrogen adalah untuk mencegah pembentukan senyawa aromatik polisiklik. Peran penting hidrogen dalam proses hydrocracking adalah untuk mengurangi pembentukan tar dan mencegah penumpukan coke di katalis. Hidrogenasi juga berfungsi untuk mengkonversi senyawa sulfur dan nitrogen dalam bahan baku untuk hidrogen sulfide dan amonia. 

B.  Proses Hydrocracking
            Pada tahap pertama, bahan baku dipanaskan lalu dicampur dengan hidrogen daur ulang dan dikirim ke reaktor tahap pertama, di mana katalis mengkonversi senyawa sulfur dan nitrogen untuk menjadi hidrogen sulfida dan amonia. Setelah hidrokarbon meninggalkan tahap pertama, kemudian didinginkan hingga cair dan dijalankan melalui pemisah hidrokarbon. Hidrogen didaur ulang untuk bahan baku. Cairan dibebankan pada sebuah fractionator. Tergantung pada produk yang diinginkan (bensin komponen, bahan bakar jet, dan minyak gas), fractionator dijalankan untuk memotong beberapa bagian dari keluaran reaktor tahap pertama. Range minyak tanah material dapat diambil sebagai produk samping imbang terpisah atau termasuk dalam dasar fractionator dengan minyak gas.
Bagian bawah fractionator yang dicampur lagi dengan aliran hidrogen dan dibebankan pada tahap kedua. Karena bahan ini telah mengalami beberapa hidrogenasi, cracking, dan reformasi dalam tahap pertama, operasi tahap kedua yang lebih tinggi (suhu yang lebih tinggi dan tekanan). Seperti tenaga mesin dari tahap pertama, tahap kedua produk dipisahkan dari hidrogen dan dibebankan fractionator tersebut. Berikut data umpan dan produk dari proses hydrocracking.
Tabel 1. Umpan dan Produk Proses Hydrocracking

Proses hydrocracking dapat digambarkan dengan skema sebagai berikut :

Gambar 1. Proses Hydrocracking (Buku Pintar Migas Indonesia, 2012)

Bersamaan dengan proses hydrocracking, impurities yang terkandung dalam feed, seperti senyawa sulfur, nitrogen, oksigen, halide, dan metal juga dihilangkan. Selain itu senyawa olefin juga dijenuhkan. 
- Penghilangan sulfur dilakukan dengan cara mengubah senyawa sulfur organic menjadi hydrogen sulfide dan hydrocarbon. 
- Penghilangan nitrogen dilakukan dengan cara mengubah senyawa nitrogen organic menjadi ammonia dan hydrocarbon.
- Penghilangan oksigen dilakukan dengan cara mengubah senyawa oksigen organic menjadi air dan hydrocarbon 
- Penghilangan halida dilakukan dengan cara mengubah senyawa halide menjadi chloride acid dan hydrocarbon. 
- Penjenuhan olefin dilakukan dengan cara meng-hydrogenasi senyawa olefin menjadi parafin. Tujuan penjenuhan olefin adalah untuk peningkatan stabilitas produk saat penyimpanan (warna dan sediment). 
- Penghilangan metal : senyawa organik metal akan terdekomposisi dan metal akan secara permanen diserap atau beraksi dengan katalis. Metal ini merupakan racun katalis yang permanen (tidak dapat dihilangkan).
Semua reaksi di atas bersifat eksotermis sehingga temperatur akan naik saat feed melewati unggun katalis (catalyst bed). Urutan kemudahan reaksi yang terjadi di hydrocracking adalah sebagai berikut (mulai dari yang paling mudah hingga yang paling susah) :
- Penghilangan logam
- Penjenuhan olefin
- Penghilangan sulfur
- Penghilangan nitrogen
- Penghilangan oksigen
- Penjenuhan cincin (heteroaromatic → multiring aromatic → monoaromatic)
- Cracking naphthene (multiring naphthene → mono naphthene)
- Cracking parafin 

Berikut urutan reaksi hydrocracking pada reactor hydrocracker.
Gambar 2. Urutan reaksi hydrocracker (Buku Pintar Migas Indonesia, 2012)

C.  Katalis Hydrocracking
Katalis yang digunakan dalam proses hydrocracking adalah bi-functional catalyst (mempunyai dua fungsi, yaitu metal function dan acid function). Metal function digunakan untuk sulfur removal, nitrogen removal, olefin saturation, dan aromatic saturation. Sedangkan acid function digunakan untuk hydrocracking. Berkaitan dengan katalis hydrocracking, dikenal istilah supports dan promoters, dimana supports menyediakan acid fuction sedangkan promoters menyediakan metal function. Umumnya katalis hydrocracking dikelompokkan menjadi 2 tipe berdasarkan support-nya, yaitu amorphous dan zeolite. Tipe amorphous digunakan jika diinginkan maksimasi produk distilat (kerosene dan diesel), sedangkan tipe zeolite digunakan jika diinginkan maksimasi produk naphtha. Perbandingan antara tipe amorphous dan zeolite adalah sebagai berikut : 
Tabel 2. Perbandingan Katalis Tipe Amarphous dan Zeolite

            Berdasarkan tabel di atas, katalis tipe zeolite mempunyai banyak keunggulan dibandingkan tipe amorphous. Namun tipe zeolite mempunyai kelemahan utama, yaitu lebih sedikit memproduksi distilat (kerosene dan diesel). Oleh karena itu beberapa tahun belakangan ini diproduksi katalis tipe semi-zeolite, yaitu katalis yang mempunyai keunggulan seperti tipe zeolite dan mempunyai kemampuan produksi distilat (kerosene dan diesel) mendekati kemampuan tipe amorphous.

D.  Variabel Proses Hydrocracking
      1.   Fresh Feed Quality
Kualitas feed hydrocracker akan mempengaruhi :
- Temperatur yang dibutuhkan untuk mencapai konversi penuh
- Jumlah hydrogen yang dikonsumsi
- Umur katalis
- Kualitas produk
Beberapa hal penting yang berkaitan dengan kualitas feed hydrocracker adalah sebagai berikut : 
a.   Boiling range (Rentang Titik Didih) 
Peningkatan boiling range umpan akan mengakibatkan umpan tersebut lebih susah untuk diproses, sehingga membutuhkan temperatur yang lebih tinggi yang kemudian akan menyebabkan umur katalis menjadi lebih pendek. Umpan dengan end point tinggi biasanya juga mengandung sulfur dan nitrogen lebih banyak. Initial boiling point umpan yang rendah (< 370oC) tidak berpengaruh buruk terhadap operasi, namun akan mengurangi efisiensi operasi karena fraksi < 370oC tidak mengalami konversi di katalis.
b.   Kandungan Sulfur dan Nitrogen
Kenaikan jumlah senyawa sulfur dan nitrogen organik akan meningkatkanseverity operasi. Kandungan sulfur tinggi akan meningkatkan konsentrasi H2S dalam recycle gas sehingga akan menurunkan purity recycle gas dan kemudian menurunkan tekanan partial hydrogen. Namun hal ini tidak terlalu berpengaruh terhadap aktivitas katalis karena konsentrasi H2S hanya berkisar ratusan ppm (part per million). Namun kandungan senyawa nitrogen organic yang terkonversi menjadi ammonia dan terakumulasi dalam recycle gas akan menurunkan aktivitas katalis. Oleh karena itu, umpan dengan kandungan nitrogen organik tinggi akan lebih sulit diproses dan membutuhkan temperature lebih tinggi.
c.   Kandungan Senyawa Tak Jenuh
Jumlah senyawa tak jenuh seperti olefin dan aromatik yang terkandung dalam umpan akan meningkatkan kebutuhan gas hidrogen dan meningkatkan panas reaksi yang dilepas. Secara umum untuk boiling range umpan tertentu, penurunan API gravity mengindikasikan peningkatan kandungan senyawa aromatik tak jenuh. Selain itu parameter lain yang mengindikasikan peningkatan senyawa tidak jenuh adalah tingginya angka insoluble normal Heptane (n-C7). Kandungan hidrokarbon tak jenuh yang berlebihan dapat menyebabkan permasalahan kesetimbangan energi bila suatu unit tidak dirancang khusus untuk jenis umpan tersebut.
d.   Komponen Cracked Feed 
      Catalytically cracked feed dan thermally cracked feed biasanya memiliki kandungan sulfur, nitrogen, dan particulate yang lebih besar. Selain itu juga mengandung aromatik dan senyawa pembentuk HPNA yang lebih banyak. Hal ini menyebabkan cracked feed lebih sulit diproses dan membutuhkan hydrogen lebih banyak. Pengolahan cracked feed akan meningkatkan laju deaktivasi katalis dan juga pressure drop reaktor.

e.   Racun Katalis Permanen
      Pada proses penghilangan logam dari umpan, senyawa logam organic terdekomposisi dan menempel pada permukaan katalis. Jenis logam yang biasanya menjadi racun katalis hydrocracker adalah nikel, vanadium, ferro, natrium, kalsium, magnesium, silica, arsenic, timbal, dan phospor. Keracunan katalis oleh logam bersifat permanent dan tidak dapat hilang dengan cara regenerasi. Keracunan logam dapat dicegah dengan membatasi kandungan logam dalam umpan. Best practice batasan maksimum kandungan logam yang terkandung dalam umpan hydrocracker adalah 1,5 ppmwt untuk nikel dan vanadium, 2 ppmwt untuk ferro dan logam lain, serta 0,5 ppmwt untuk natrium.
f.    Racun Katalis Tidak Permanen (Regenerable Catalyst Contaminant)
      Racun katalis tidak permanen adalah pengotor yang dapat dilepaskan dari katalis dengan cara regenerasi katalis. Contoh racun katalis tidak permanen adalah coke. Kandungan asphaltene yang tinggi akan mengakibatkan pembentukan coke di permukaan katalis dan menurunkan aktivitas katalis. Kandungan asphaltene diukur dengan menggunakan parameter insoluble normal heptane (n-C7). Batasan maksimum insoluble n-C7 dalam umpan adalah 0,05 %wt. Selain insoluble n-C7, parameter lain untuk mengetahui jumlah kandungan asphalthene adalah Conradson Carbon Ratio (CCR). Batasan maksimum CCR dalam umpan adalah 1 %wt.

      2.   Fresh Feed Rate atau LHSV (Liquid Hourly Space Velocity)
LHSV didefinisikan sebagai (fresh feed, m/jam)/(volume katalis, m), sehingga satuan LHSV adalah 1/jam. Kenaikan feed rate dengan volume katalis yang tetap akan menaikkan nilai LHSV. Untuk memperoleh tingkat konversi reaksi yang sama, maka sebagai kompensasinya maka temperatur reaksi (temperature inlet reactor) harus dinaikkan. Namun kenaikan temperatur catalyst akan menyebabkan peningkatan kecepatan pembentukan coke pada permukaan katalis sehingga akan mengurangi umur katalis. 


3.   Combined Feed Ratio (CFR)
CFR didefinisikan sabagai (fresh feed + recycle feed)/(fresh feed). Bottom fraksionator yang tidak terkonversi dikembalikan ke reaktor dengan tujuan untuk : Menurunkan panas yang dilepaskan oleh reaksi, karena recycle feed tersebut telah terdesulfurisasi dan telah jenuh serta hanya membutuhkan reaksi hidrocracking. Hal ini dapat menurunkan beban katalis. 
-  Menurunkan severity reaksi. 
-  Efek langsung kenaikan CFR adalah pengurangan yield naphtha (dan kenaikan yield produk 150oC+) dan dari kenaikan yield produk 150oC+ yang tertinggiadalah kenaikan jumlah produksi diesel.
CFR optimum untuk operasi Hydrocracker adalah antara 1,6 s/d 1,65. CFR > 1,65 berarti unit dijalankan dengan low severity, sedangkan jika CFR < 1,6 berarti unit dijalankan dengan high severity. CFR ini bisa juga untuk mensiasati umur katalis; jika peak temperature fresh feed reactor sudah tercapai, CFR dapat dinaikkan untuk menurunkan severity operasi fresh feed reactor.

      4.   Hydrogen Partial Pressure
Selain digunakan untuk reaksi, hydrogen juga berfungsi untuk menjaga tingkat kecepatan pembentukan coke pada permukaan katalis. Hydrogen partial pressure yang rendah akan meningkatkan kecepatan deaktivasi katalis. Hydrogen partial pressure dikendalikan dengan cara menjaga tekanan reaktor dan purity hydrogen dalam recycle gas. Purity hydrogen dapat ditingkatkan dengan cara :
-  Meningkatkan kandungan hydrogen dari make up compressor. 
-  Venting recycle gas dari High Pressure Separator untuk membuang impurities seperti NH3 dan H2S.
-  Menurunkan temperatur High Pressure Separator.
Hydrogen to Hydrocarbon Ratio (H2/HC ratio)
Peningkatan laju alir recycle gas akan meningkatkan rasio H2/HC. Pengaruh perubahan H2/HC sama dengan pengaruh tekanan parsial hidrogen terhadapseverity reaksi. Variabel yang dikendalikan untuk menjaga H2/HC adalah laju recycle gas, hydrogen purity dalam recycle gas, dan laju umpan
      5.   Temperatur
Kenaikan temperatur akan menaikkan konversi yang kemudian akan menyebabkan kenaikan laju deaktivasi katalis. Kenaikan temperature yang mendadak dan sangat tinggi disebut dengan istilah temperature runaway atau temperature excursion. Temperature runaway atau temperature excursion didefinisikan sebagai berikut : 
-  ΔT reaktor (peak – inlet temperature) > 28oC (untuk 1st stage amorphouscatalyst) atau > 14oC (untuk 2nd stage amorphous catalyst) atau > 42oC (untuk 1st stage zeolite catalyst) atau > 21oC (untuk 2nd stage zeolite catalyst), dan 
-  Peak temperature reaktor melebihi batasan disain (untuk amorphous catalyst > 454oC).

      6.   Wash Water Injection
Injeksi wash water pada unit hydrocracker diperlukan untuk : 
-  Menghilangkan ammonia dalam recycle gas. Adanya ammonia dalam recycle gas walaupun dalam jumlah sangat kecil (biasanya sekitar 200-400 ppm tergantung dari jenis umpannya) akan sangat mengganggu aktivitas katalis karena ammonia akan mengisi active site katalis.
-  Mencegah terjadinya fouling akibat pembentukan garam ammonia (terutama pada fin fan cooler effluent reactor, upstream high pressure separator karena pada temperatur rendah senyawa garam mudah mengendap).
Pembentukan NH4HS adalah akibat dari reaksi senyawa ammonia anorganik (NH3) dengan senyawa sulfur anorganik (H2S). Fungsi wash water adalah melarutkan NH4HS agar tidak mengendap pada bagian dalam fin fan cooler yang akan menyebabkan plugging. Temperatur wash water tidak boleh terlalu tinggi. Best practice-nya, temperature wash water harus cukup rendah sehingga minimal 20% dari injeksi wash water masih tetap berbentuk cair pada outlet fin fan cooler (inlet high pressure separator). Jika injeksi wash water terganggu dalam waktu lebih dari 30 menit maka efeknya akan langsung terasa, yaitu jumlah unconverted oil meningkat (karena konversi menurun akibat meningkatnya kandungan ammonia pada recycle gas yang berebut untuk menempati active site katalis). Oleh karena itu, jika dalam waktu 30 menit gangguan injeksi wash water tidak dapat diatasi, maka unit hydrocracker harus turun feed atau bahkan harus shutdown jika injeksi wash water sama sekali tidak ada karena ketidakadaan wash water akan menyebabkan plugging pada fin fan cooler upstream high pressure separator.

E.  Thermal Cracking Process
            Proses perengkahan panas (thermal cracking process) adalah suatu proses pemecahan rantai hydrocarbon dari senyawa rantai panjang menjadi hydrocarbon dengan rantai yang lebih pendek dengan bantuan panas. Proses perengkahan panas bertujuan untuk mendapatkan fraksi minyak bumi dengan boiling range yang lebih rendah dari feed (umpannya). Dengan melalui proses ini dihasilkan gas, LPG, gasoline (naphtha), gas oil (diesel), residue atau coke. Feednya dapat berupa gas oil atau residue. Visbreaking Unit biasanya didisain untuk mengolah Vacuum Distillation Unit residue (atau dapat juga untuk mengolah gas oil). Proses perengkahan residue ini dimungkinkan dengan pemanasan umpan menggunakan visbreaking unit fired heater dan rapid quenching fluida keluar fired heater, yang memudahkan terjadinya perengkahan panas dan perubahan viscosity untuk proses lebih lanjut. Produk visbreaking unit adalah overhead tail gas, naphtha, dan bottom.

F.   Teori Perengkahan Panas dan Proses Visbreaking
Saat hydrocarbon dipanaskan dan didekomposisi dalam kondisi perengkahan panas, hydrocarbon dapat diasumsikan terpecah menjadi dua atau lebih radikal bebas. Radikal-radikal bebas tersebut kemudian bereaksi menghasilkan total produk yang mencakup rentang berat molekul yang besar mulai dari hydrogen hingga bitumen dan coke. Terkait dengan teori perengkahan panas, reaksireaksinya, sebagai contoh, dapat digambarkan sebagai berikut :
C 10 H 22 C 8 H 17 * + C 2 H 5 * (1)
Radikal-radikal yang sangat reaktif tidak keluar sebagai effluent produk perengkahan panas, tetapi tergantung ukuran dan lingkungannya : (a) bereaksi dengan hydrocarbon lain, (b) terdekomposisi menjadi olefin, (c) bergabung dengan radikal-radikal lain, dan (d) bereaksi dengan permukaan logam.
Secara umum, radikal-radikal kecil lebih stabil daripada radikal-radikal yang lebih besar, dan akan lebih siap bereaksi dengan hydrocarbon lain dengan menangkap satu atom hydrogen, sebagai contoh :
C 2 H 5 * + C 6 H 14 C 2 H 6 + C 6 H 13 * (2)
Radikal-radikal besar tidak stabil dan terdekomposisi untuk membentuk olefin dan radikal-radikal yang lebih kecil, sebagai contoh :
C 6 H 13 * àC 5 H 10 + CH 3 *       (3)
C 8 H 17 * àC 4 H 8 + C 4 H 9 *     (4)
C 4 H 9 * àC 4 H 8 + H*                 (5)
Reaksi-reaksi rantai radikal bebas tersebut berakhir saat dua radikal bergabung, sebgai contoh :
C 8 H 17 * + H* à C 8 H 18            (6)
Atau saat sebuah radikal bereaksi dengan suatu logam atau racun. Reaksi-reaksi kondensasi dan polimerisasi yang terjadi pada kondisi perengkahan panas dapat menjadi aromatic tar, sebagai contoh :
xC 4 H 8 + yc 4 H 8 + zc 3 H 6 à multi-aromatic-ring (7)
Coke dan bitumen adalah jenis polimer utama. Molekul-molekul tersebut bisa menjadi sangat besar. Kekurangan hydrogen dan berat molekul yang besar mengurangi kelarutannya dalam hydrocarbon. Coke mempunyai rasio atom hydrogen-carbon sekitar 2:1.

G.  Feed dan Produk Visbreaking
Spesifikasi produk visbreaking process unit harus disesuaikan dengan spesifikasi blending fuel oil dan sifat komponen blending lainnya. Jika viscosity visbroken bottom tinggi, maka fuel oil blending memerlukan lebih banyak fuel dan temperature keluar fired heater yang lebih tinggi. Hal tersebut akan meningkatkan kecenderungan terbentuknya coking pada tube fired heater. Oleh karena itu, spesifikasi produk harus disesuaikan berdasarkan maksimalisasi keuntungan untuk keseluruhan kilang.
Visbreaking process unit biasanya didisain untuk memproduksi produk-produk sebagai berikut :
-  Off gas yang akan diolah di Gas Concentration Process
-  Unit Unstabilized naphtha yang juga akan dioleh di Gas Concentration Process Unit
-  Visbroken bottom residue yang akan dikirim ke fuel oil blending (normal) atau refinery fuel oil (jika diperlukan).
Produksi naphtha diminimumkan dengan tetap mempertahankan spesifikasi flash point fuel oil.

DAFTAR PUSTAKA


Operation Manual for Unit : 130 Visbraking Process Unit Pakistan-Arab Refinery Limited (PARCO), Mid-Country Refinery Project, Mahmood Kot, Pakistan.

  © Blogger template The Beach by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP